Pertengkaran ini banyak penyebabnya mulai dari masalah ekonomi, perselingkuhan, perbedaan cara pandang, perbedaan status sosial dan lain sebagainya, untuk menyikapi pertengkaran ini perlu diadakan komunikasi antar suami istri secara terbuka karena salah satu inti dari pernikahan adalah persatuan dua orang yang berbeda dan harus dilandasi keterbukaan, kepercayaan serta rasa saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan, oleh karena itu perlu diadakan flash back atau kembali kepada sejarah pernikahan itu sendiri.
Pernikahan tidak hanya melulu persatuan dua insan (suami dan istri) tetapi juga merupakan persatuan antar keluarga dari masing-masing pasangan. Inilah yang kurang mendapatkan perhatian dari pasangan yang sudah menikah. Keluarga yang dimaksud adalah keluarga inti masing-masing pasangan yaitu ayah, ibu, kakak, dan adik. Seringkali pasangan suami istri hanya memperhatikan karakter dan kebutuhan pasangannya sendiri, padahal pengaruh keluarga masing-masing sangat dominan tanpa disadari mereka.
Latar belakang keluarga pasangan suami istri memiliki karakter khas dan kadangkala ada perbedaan mendasar dalam hal tradisinya (misalnya di keluarga suami ucapan ulang tahun kurang diperhatikan, akan tetapi di pihak keluarga istri sangat diperhatikan). Perbedaan ini harus dibicarakan dan diselaraskan sehingga nantinya di masa depan tidak menjadi batu sandungan pernikahan. Apabila ada kebiasaan atau tradisi baik dari salah satu pasangan, maka kiranya dapat diterapkan pada keluarga mereka terdahulu (keluarga suami istri) baru setelah itu disosialisasikan kepada keluarga besar.
Hal yang terpenting dalam kehidupan pernikahan jangan pernah ada anggapan tidak ada itu saudaramu bukan saudaraku, itu ayah dan ibu mu bukan orang tuaku, sekali-kali jangan lakukan itu. Jika kita tidak cocok dengan salah satu saudara atau orang tua pasangan kita, langkah pertama yang kita lakukan adalah menerima mereka apa adanya dahulu dan "mencatat" apa yang tidak berkenan dengan kita, apabila ketidakcocokan tersebut mendasar, kita harus tegas menyikapinya akan tetapi dengan sopan dan memberikan "jarak" batasan yang aman tanpa membencinya.
Demikian sedikit sharingnya. Salam damai dan sejahtera bagi kita semua. Amin!
.jpg)

No comments:
Post a Comment